Seorang Filsuf. Beberapa tahun lalu ia mengajar di sebuah university di New York. Suatu hari setelah selesai kelas, ia kembali ke apartementnya bersama seorang collega guru yang juga mengajar di universitas yang sama. Setelah sampai di apartemen sang filsuf mempersilakan colleganya, sang ibu guru duduk di sofa dan ngobrol ngalor-ngidul sambil nonton siaran televisi.
Di tengah ngobrolan mereka sang ibu guru berkata; “Well, Mike. I love you.” Sang filsuf melotot matanya memandang sang ibu guru, dan setelah berpikir sejenak ia bertanya: “What is love?” Dasar sang filsuf, yang selalu suka bertanya dan terus bertanya. Bahkan rasa cinta yang munculpun harus dipertanyakan.
Temannya, sambil mengangkat bahu dan menggoyangkan kedua tangannya di samping telinganya menjawab: “Love is magical.” Sang filsuf merasa shock. Ia merasa shock karena ternyata cinta begitu sederhana, ternyata cinta begitu enteng seenteng sebuah sandiwara, seenteng sebuah permainan sulap atau memperagakan sebuah magic. Dan apa artinya sebuah magic? Ia bertanya diri. Sang filsuf bertambah shock ketika ia perpikir lebih lanjut bahwa magic bisa berubah. Hari ini penampakanku bisa saja nampak magical, tetapi besok kekuatan magicnya mungkin akan berkurang bahkan hilang. Hari ini saya mudah mengatakan kepada seseorang bahwa saya mencintainya dari lubuk hatiku yang paling dalam, tetapi besok mungkin berubah. Itukah yang dimaksudkan dengan cinta sebagai sebuah “magic?” Sang filsuf masih berpikir, berapa banyak pasangan yang harus cerai dalam sehari karena perkawinan mereka telah kehilangan “magic power-nya?” Berapa banyak kehidupan berkeluarga yang akhirnya pecah berantakan hanya karena keluarga mereka dibangun di atas dasar cinta sebagai sebuah “magic?”
Di telinga sang filsuf masih terngiang sebuah kalimat indah, kalimat yang pernah keluar dari mulut idolanya Agustinus dan Thomas Aquinas: “To love is to will the good in the other”. Mencintai berarti menginginkan atau menghendaki sesuatu yang baik bagi orang lain. Bila aku mengatakan bahwa aku mencintai engkau, itu seharusnya dipahami bahwa saya menghendaki agar engkau memiliki segala sesuatu yang baik, agar engkau menjadi dirimu sendiri. Aristoteles (seorang laki-laki) dalam dialognya dengan Alcibiades (laki-laki juga), menunjukan secara amat jelas bahwa ia amat mencintai Alcibiades. Cinta apakah yang dimaksudkan Aristoteles? Yang dimaksudkan Aristoteles adalah juga cinta dalam arti di atas, yakni bahwa Aristoteles menghendaki agar Alcibiades pada akhirnya menjadi lebih baik. Ia secara perlahan-lahan membimbing Alcibiades untuk memahami dan menjadi dirinya sendiri. Aristoteles membantunya untuk memahami bahwa agar mampu melihat diri sendiri Alcibiades butuh sebuah cermin. Dan cermin tersebut adalah “the Divine”, adalah Allah sendiri. Memahami diri sendiri berarti mampu melihat diri sendiri sebagai gambaran diri Allah dan hidup sesuai dengan gambaran tersebut. Dan Aristoteles dalam cintanya kepada Alcibiades telah berusaha membawa yang terbaik kepada Alcibiades.
Itulah arti sebuah cinta. Saya masih ingat sebuah kata yang sungguh indah tentang apa artinya sebuah cinta. Itu adalah kata seorang filsuf Gabriel Marcel, ¡§Cinta berarti mengatakan kepada seorang sahabat: ¡¥Engkau tak akan pernah mati.¡¦¡¨ Cinta tidak terpusat pada diri sendiri, tetapi selalu pada orang yang dicintai.
Semoga sayapun tidak melihat cinta sebagai sebuah drama, sebagai sebuah permainan sulap, atau sebagai sebuah magic, but to will the good in other people. Aku tahu bahwa hal ini tidak mudah, tetapi suatu perjuangan yang tak akan pernah selesai. Ah….Ini sekedar buang di angin yang lagi terbang menggoyangkan daun kering musim gugur………
sumber :Contempolation

Music & Lyrics by Handy Iskandar & Sari Simorangkir
Music Arrangement by Ucok Radjagukguk

I will bless the Lord
God of all the earth
According to Your worth
Forever reigns
Mercy and Your Grace
Still in every way
Lord according to Your name
Will never change
Will never change

Reff:
Worthy is the Lamb
To the One and only Son
Worthy is the Lamb
King of glory awesome God
Worthy is the Lamb
Lord of heaven mighty one
God almighty reigns

Lamb of God
Who was and is to come
Lamb of God
You are high and lifted up

jesus you
you hold the world with your unfailing love
the heaven sings your praises from above
in your name lips shall praise and knees shall bow

father you
the universe exalts in who you are
the stars declare your wonder far and wide
how majestic is your love throughout my life

in you… i find my peace
in you… i bend my knees

reff :
you are lord of heaven you shall reign in all the earth
i humbly bow before your majesty
now i will sing your praises and i will sing forevermore
i’M CAPTIVATED BY YOUR LOVE IN ME

I will sing of the mercies of the Lord
With my mouth will I sing of Your great Love
I will lift my voice to nations’ end
Craying out “Who is mighty like our God?”

For everything is Yours the heavens and the earth
The north, south, east and west let every tongue confess
And every knee shall bow let all the nations sing
Great and mighty are You Lord who was and is to come
Righteous ruler of the earth who reigns forevermore

I will bless the Lord with all my soul
I will bless the One who made me whole
For You alone my Lord my heart will sing
I will bless the Lord with all my soul

I will tell of all Your mighty love
One that pulled from the dark into Your light
For You alone my Lord my heart will sing
I will tell of all Your mighty love

Holy are You Lord my heart will sing out
Mighty Son of God my soul will cry out
Worthy Lamb of God my life will sing out
I will bless the Lord with all my soul

God of all the earth God of all the earth
God of all the earth Jesus

Penggunaan syntax HAVING clause pada SQL Statement:

SELECT column1, column2, … column_n, aggregate_function (expression)
FROM tables
WHERE predicates
GROUP BY column1, column2, … column_n
HAVING condition1 … condition_n;

Example using the SUM function

SELECT department, SUM(sales) as “Total sales”
FROM order_details
GROUP BY department
HAVING SUM(sales) > 1000;

Example using the COUNT function

SELECT department, COUNT(*) as “Number of employees”

FROM employees
WHERE salary > 25000
GROUP BY department
HAVING COUNT(*) > 10;

Example using the MIN function

SELECT department, MIN(salary) as “Lowest salary”

FROM employees
GROUP BY department
HAVING MIN(salary) = 35000;

Example using the MAX function

SELECT department, MAX(salary) as “Highest salary”

FROM employees
GROUP BY department
HAVING MAX(salary) < 50000;

wahhh hari ni capeekkk banget neh….:-) but thx gd…for all today..

Matter ecclesiae & father…thank’s tuk pagi hari ini….semoga aq bisa belajar memuliakan kehadiran mu dalam keseharianku…dan pekejerjaanku !!  J love u “Amien”

Santo Aloysius Gonzaga (1568 – 1591)
21 Juni – Pelindung kemurnian kaum muda katolik yang dilambangkan dengan seorang frater dan bunga lili (bakung).
Aloysius lahir sebagai anak sulung keluarga Castiglione. Ibunya memandang dia sebagai karunia istimewa Tuhan, sehingga ia membesarkan Aloysius dengan penuh perhatian dan bijaksana. Ibunya berharap bahwa Aloysius kelak dapat terpilih menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Kata-kata pertama yang dapat diucapkan oleh Aloysius kecil adalah “Dalam nama Yesus dan Maria”, hasil didikan ibunya.
Sang Ayah yang menjadi komandan pasukan pada waktu pemerintahan Raja Philip II mengharapkan kelak Aloysius dapat menjadi tentara yang perkasa. Dari sejak usia dini Aloysius sering diajak ke tempat tugasnya. Aloysius yang saat itu masih sangat muda, tidak menyukai gaya kehidupan para tentara dan pembesar-pembesar istana yang dianggapnya begitu kejam dan bejat. Pada usia 9 (sembilan) tahun, ia berjanji akan tetap mempertahankan kemurniannya. Supaya dirinya terhindar dari godaan-godaan yang menyesatkan, ia selalu mengalihkan pandangan ke tempat lain ketika berpapasan dengan perempuan.
Santo Charles Boromeus adalah yang pertama kali memberikan komuni kepada Aloysius. Gejala penyakit ginjal yang dialaminya membuat ia terhindar dari pengaruh buruk kehidupan sosialnya di tengah-tengah tentara untuk sementara waktu. Pada masa itu Aloysius banyak menghabiskan waktu dengan berdoa dan membaca kisah kehidupan para orang kudus.
Pada usia 16 (enam belas) tahun, Aloysius memutuskan untuk masuk Serikat Yesus, tetapi ia ditolak dengan alasan masih terlalu muda. Demikian pula dengan tahun berikutnya, ia masih belum diperbolehkan untuk berbagung. Akhirnya pada usia 18 (delapan belas) tahun, ia berhasil masuk kolese Serikat Yesus di Roma. Sang ayah yang tadinya begitu gencar melarang, akhirnya juga merestui jalan yang ditempuh oleh Aloysius.
Dengan rasa lega, Aloysius membisikkan kata-kata “Di sinilah tempat ketenanganku, di sinilah aku ingin menetap!”.
Aloysius sangat tekun berdoa, matiraga dan bersikap rendah hati. Dua tahun kemudian ia mengucapkan kaul dan belajar teologi.
Pada tahun 1587 di Milan, ia aktif membantu di rumah sakit yang dibuka oleh para Jesuit untuk membantu orang-orang yang terkena wabah penyakit pes. Ia terus bekerja tanpa kenal lelah membantu para korban tanpa memperhatikan kesehatan dirinya sendiri sehingga akhirnya pun ia terjangkit penyakit itu.
Pada usia yang masih muda, 23 (dua puluh tiga) tahun, setelah menerima pemberkatan terakhir dari Santo Robert Bellarminus, Aloysiuspun meninggal. Kata-kata terakhir yang diucapkannya adalah “Dalam nama Yesus”. Ucapan yang sama ketika ia mulai bisa berbicara pertama kali.
Santo Robert pula yang menuliskan kisah hidup Aloysius.

Sumber: Warta Mikael

Ketika saya membaca buku tamu pondok renungan, saya menemukan dua permintaan agar menyertakan kisah tentang Santo Christophorus. Karena itu di sini saya mencoba menghadirkan kisah hidup singkat Santo Christophorus.
Walaupun St. Christophorus merupakan satu di antara para orang kudus yang amat popular baik di dunia Timur maupun Barat, namun kisah hidup serta kematiannya tak diketahui secara pasti. Sebuah kisah menceritakan bahwa istri seorang raja (mungkin dari negeri Kanaan atau Arab), setelah berdoa dengan bunda Perawan Maria, akhirnya dikaruniai seorang putra yang diberi nama Offerus. Nama inipun tidaklah pasti. Ada beberapa nama yang diberikan kepadanya; Offro, Adokimus, atau Reprebus. Karena ia memiliki tubuh yang kekar dan kekuatan yang luar biasa maka ia memutuskan hanya untuk melayani mereka yang kuat dan berani. Ia menemukan bahwa hanya raja dan setanlah yang memenuhi prasyarat untuk mendapatkan pelayanannya. Namun perlahan-lahan didapatinya bahwa keduanya juga kurang berani. Sang raja adalah seorang penakut, bahkan hanya untuk menyebut nama Setan saja ia tidak berani. Sedangkan Setan akan menjerit ketakutan saat melihat sebuah salib yang dipancang di pinggir jalan. Ia tak mampu mencari seorang majikan kepada siapa ia boleh membaktikan dirinya.
Pada akhirnya ia menemukan sebuah biara hemit (seorang pertapa) yang menganjurkan agar ia membaktikan dan mempersembahkan tenaga dan kekuatannya kepada Kristus. Sang pertapa membantunya mengenal ajaran kristiani, dan pada akhirnya membaptisnya. Saat dipermandikan, Chrsitophorus sama sekali tak berjanji pada sang pertapa bahwa ia akan menjalani suatu bentuk hidup doa dan askese yang keras, namun ia amat bersedia untuk membantu siapa saja yang hendak melewati sebuah sungai yang luas dengan airnya yang deras dekat biara pertapaan mereka.
Suatu hari ia memikul seorang anak kecil di pundaknya untuk melewati sungai tersebut. Namun anehnya, anak kecil yang seharusnya mampu diangkatnya dengan satu jari ini kini bertambah berat dan berat. Christophorus merasa seakan-akan ia kini sedang memikul seluruh dunia di atas pundaknya. Setelah tiba di seberang sungai sang anak kecil itu menyatakan diriNya sebagai Tuhan, Pencipta dan Penebus seluruh alam raya. Untuk membuktikan hal ini, Yesus menyuruh Christopher untuk menanamkan sesuatu di dalam tanah. Pagi berikutnya ketika Christopher datang melihatnya, sebuah pohon palma telah bertumbuh subur di atas tanah tersebut dan menghasilkan buah-buahnya. Kisah peristiwa mukjizat ini akhirnya tersebar dan menarik begitu banyak orang yang pada akhirnya percaya akan Kristus. Hal ini mendatangkan amarah sang raja (Dagnus dari Samos), yang memerintahkan agar Christophorus ditangkap dan dipenjarakan. Ia pada akhirnya dipenggal dan dikaruniai mahkota sebagai martir.
Kisah di atas berasal dari legenda di tanah Yunani pada abad ke enam. Pada pertengahan abad ke sembilan, kisah ini tersebar di Prancis.
Nama Christophorus secara harafiah berarti “pemikul Kristus” (Christbearer). Nama ini berasal dari kata Yunani “Christos” (Kristus) dan “pherein” (memikul). Ada sejumlah diskusi seputar makna nama tersebut, ada yang mengatakan bahwa pemikul Kristus ini bukanlah sesuatu yang bersifat fisikal, tetapi lebih bersifat spiritual yakni memikul atau membawa serta Kristus yang bangkit di dalam hati. Setiap orang Kristen membawa serta Kristus yang bangkit di dalam hati mereka, dan karena itu semua orang kristen dalam hal ini adalah juga Christophorus.
Santo Christophorus dikenang pestanya setiap tanggal 25 Juli. Namun di kalangan orang Yunani, pestanya dirayakan setiap tanggal 9 Maret. Nama Santo Christopher juga diabadikan dengan menamakan sebuah pulau; St. Christopher’s Island (yang lebih sering dikenal dengan St. Kitts), di sebelah barat Antigua.

~ thx

Sumber: http://www.newadvent.org/cathen/03728a.htm

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »