Bahagiakah aku? Pernahkah kita merenungkan pertanyaan itu? Apakah kejadian yang kita alami dan temukan sehari-hari mampu membahagiakan kita? Ataukah kita tetap berada dalam labirin sempit pemikiran kita dan menemukan serpih-serpih kegagalan yang terus mengoyak perasaan kita? Kita mungkin tertawa dengan hati yang sedih. Kita mungkin menghibur dengan hati yang sesungguhnya ingin dihibur. Kita bahkan bisa melawak dan membuat teman-teman dan keluarga kita tertawa terbahak-bahak walau dengan hati yang amat pahit. Kebahagiaan memang amat sulit didapat. Maka apakah anda berbahagia saat ini?

“Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada seorang pelari, lenyap tanpa melihat bahagia” keluh Ayub suatu ketika. Ya, hari-hari kita akan memudar dengan segera saat kita kehilangan segala sesuatu yang kita idamkan dalam hidup ini. Maka makna kebahagiaan maupun penderitaan sesungguhnya berasal dalam pilihan hidup kita. Kebahagiaan, karena itu, berawal dari pikiran kita. Pikiran yang ingin menjangkau banyak hal tetapi tak mampu terlaksana dalam kenyataan akan membuat kebahagiaan pergi menjauh. Dan bahkan semakin kita sesali, semakin lenyap pula dia.

Maka tidak jarang kita jumpai orang-orang yang, kita pandang, dari segala sudut materi berkecukupan namun tidak berbahagia. Dan dalam ketidak-bahagiaannya, lalu mempersalahkan segala hal atas hidupnya itu. Bahkan mempersalahkan Tuhan. Tetapi ada pula yang hidup amat sederhana namun dipenuhi keriangan. Karena sumber dari kebahagiaan hidup berawal dari pikiran. Pikiran orang yang sederhana, sederhana pula. Cukuplah agar dia hidup dan menikmatinya. Karena hidup merupakan karunia yang teramat indah dari Tuhan maka pantaskah kita tidak mensyukurinya?

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” sabda Yesus. Kekecewaan memang tak jarang kita alami. Kekecewaan yang menjadi sumber kegagalan kita menikmati kebahagiaan. Tetapi layakkah jika dalam kekecewaan itu kita lantas menolak Dia? Layakkah jika kita memaksakan pikiran kita kepadaNya sehingga kita dengan mudah mempersalahkan Dia bila kita gagal mewujudkannya? Layakkah itu?

Apakah saat ini kita berbahagia atau tidak, selayaknya kita renungkan lebih dahulu, apakah bukannya pikiran kitalah yang tidak sesuai dengan kemampuan kita sendiri? Apakah bukannya kita sendiri yang gagal mengukur kemampuan kita sehingga kita menginginkan hal-hal yang tidak layak kita dapatkan? Intinya, apakah kita telah sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri sebelum mempersalahkan pihak lain atas ketidak-bahagiaan kita?

Sambil memandang ke langit malam yang penuh ditaburi bintang dan bulan sabit yang muncul dengan indahnya, aku pun sadar. Berbahagialah orang-orang yang keinginannya sesuai dengan kemampuannya. Serta pikirannya sesuai dengan perbuatannya. Dan jika kita tetap memiliki impian-impian indah, hasrat dan ambisi yang belum teraih, janganlah itu menjadi beban atas hidup kita. Jika tak ada yang bersalah atas kebahagiaan kita, mengapa harus ada yang bersalah atas kegagalan kita?
Berbahagiakah aku?